PW PII Jabar :Insiden Bandung Adalah Bukti Devaluasi Ancaman Gizi Pelajar ” Jangan Jadikan Pelajar Sebagai Kelinci Percobaan
BANDUNG ,18 Nopember 2025 – Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Jawa Barat menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden pelecehan profesi ahli gizi yang terjadi di wilayah kami, tepatnya dalam Rapat Konsolidasi SPPG di Kabupaten Bandung, 16 November 2025. Kabupaten Bandung, sebagai pilot project, seharusnya menjadi contoh kepatuhan standar terbaik, bukan ajang de-profesionalisasi.
Bagi PW PII Jawa Barat, pernyataan pejabat publik yang menyebut ahli gizi “sombong” dan mengusulkan penggantian mereka dengan “anak-anak SMA cerdas fresh graduate” yang dilatih 3 bulan adalah penghinaan terhadap standar keilmuan dan ancaman langsung bagi pelajar di Jawa Barat.
1. Pelajar Bukan Objek Eksperimen: Usulan mengganti profesional gizi yang menempuh pendidikan tinggi (D3, D4, S1) dengan pelatihan vokasional singkat adalah usulan de-profesionalisasi ekstrem. Ini berisiko mengorbankan kualitas dan keamanan pangan bagi anak-anak kami. PW PII Jabar menolak gagasan yang membahayakan kesehatan pelajar hanya demi mengejar efisiensi anggaran.
2. Kekecewaan atas Sikap di Bandung: Sebagai tuan rumah, kami sangat kecewa dengan sikap diam Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang dan Sony Sanjaya di forum tersebut. Ketika standar profesional gizi diserang di tanah Jawa Barat, pimpinan BGN yang hadir justru gagal membela mandat inti mereka. Sikap diam ini kami tafsirkan sebagai ketundukan pada otoritas politik yang mengabaikan standar teknis.
3. Kawal Implementasi di Jabar: Meski telah ada klarifikasi dari Kepala BGN di tingkat pusat dan mediasi di DPR, PW PII Jawa Barat akan tetap mengawal implementasi di lapangan. Kami menyambut baik kolaborasi BGN dan PERSAGI, namun kami menuntut agar implementasinya di Kabupaten Bandung dan seluruh Jawa Barat diawasi secara ketat.
PW PII Jawa Barat akan menginstruksikan kader-kader PII di seluruh wilayah pilot project untuk turut memantau dan memastikan bahwa setiap dapur SPPG memenuhi standar gizi profesional, bukan standar yang diturunkan demi kenyamanan logistik.

